Dunia Tanpa Batas

Mengalir dalam setiap pembuluh darahmu, tanpa batas…

Selembar Salam


Sahabat, bila bunga telah merekah dan menyebarkan wangi, tiada terlupa aku akan aroma hangatmu yang memelukku ketika duri-duri dingin menusuk kalbuku. Dan bila daun-daun yang kering telah berjatuhan, aku tetap bersenandung selembut angin yang membelai hamparan bumi kita yang penuh akan cita-cita.

Dahulu perpisahan itu telah kita langkahi dan jarak menjadi hal yang tiada terhindari. Berkali-kali aku meminta pada-Nya, ke mana pun arah kita menuju, kita akan bertemu di suatu dimensi yang cuma kita yang tahu.

Sahabat, bila pena telah mengering dan kertas putih telah usang, tak perlulah kau takuti keadaan yang membuat keterbatasan. Puisi dan lagu memang mengikat kita, tapi hati kita merekam semuanya. Berlarilah, berlarilah wahai sahabat. Kejarlah matahari sebelum ia padam di ujung barat. Raihlah bintangmu di angkasa.

Ke mana pun kakimu berlari, ke mana pun matamu memandang, dan di mana pun kau berdiri, aku di sini mendoakanmu. Atas segala kebaikanmu, semoga kau selalu diberikan yang terbaik dari-Nya.

 

(nggak tahu kenapa gw jadi pengen nulis ginian… dibuat untuk seorang sahabat terbaik yang ‘susah’ sekali ada waktu untuk ketemu,,biar gimana pun, semoga nanti kita tetep bertemu di surga ya, hehehe :’) )

Memilih Pilihan


“Hidup itu pilihan.” Sebenernya saya merasa rancu untuk menginterpretasikan makna kalimat ini. Kalau hidup itu piilhan, mati itu apa? Mati pun bisa jadi pilihan kalau kita (nggak deh, lo aja) milih untuk bunuh diri. *amit-amit* Kalau hidup itu pilihan, kita bisa milih dong untuk hidup atau nggak? Bukannya kita udah punya takdir sejak kita dalam kandungan? Emang di dalam kandungan kita bisa milih, mau hidup atau nggak, mau keluar dari perut si emak atau nggak?

Yang saya alami sih, hidup itu bukan pilihan. Karena saya nggak milih untuk hidup. Takdir saya ya hidup. Hidup adalah bagian dari takdir saya. Tugas saya mempertahankan dan memperjuangkan hidup itu karena hidup itu bagi saya adalah anugerah paling besar dari-Nya, terlebih hidup sebagai seorang manusia. Tapi yang saya alami, di dalam hidup itu sendiri ada banyak sekali pilihan. Pilihan yang sangat mempengaruhi hidup dan kehidupannya. Ketika satu pilihan kita buat, kita akan memilih pilihan-pilihan berikutnya yang berkaitan.

Saat yang paling sulit yaitu ketika kita dihadapkan berbagai pilihan dan pilihan itu ‘memaksa’ kita untuk memutuskan suatu pilihan. Berdasarkan pengalaman sebagai manusia (Alhamdulillah nggak pernah berubah jadi makhluk lain), dalam membuat pilihan itu kita melibatkan akal, logika, bahkan perasaan. Akal kita berguna menganalisis kemungkinan-kemungkinan apa yang akan terjadi setelah pilihan kita buat. Dengan akal, kita nggak akan membuat pilihan yang sembarangan dan nggak akan sembarangan membuat pilihan. Nahloh, apa bedanya? Pikir sendiri yaa,haha. Dengan akal, kita bisa mikir berkali-kali sampe keputusan itu kita rasa udah mateng. Logika berkaitan erat dengan akal. Logika memungkinkan kita berpikir lebih jernih, independen, terstruktur, dan masuk akal. Ya, secara implisit istilahnya tuh lebih realistis. Nah, yang paling susah juga nih, kalo kita melibatkan perasaan dalam membuat keputusan, terutama pilihan. Kalau kita milih A, kita bakal seneng, tapi si anu bakal sedih. Kalau kita milih B, si anu seneng sih, tapi kita yang sedih. Kadang mucul rasa “nggak tega” sama diri sendiri atau sama orang lain. Pinter-pinternya kita nih yang berhadapan sama pilihan-pilihan yang ada. We shall think how to make a decision, yang seminimal mungkin kerugian yang timbul.

Pilihan ada di mana-mana dan menghadap siapa saja. Waktu mau ngisi lembar jawaban ujian pilihan ganda, udah jelas, namanya aja pilihan ganda, kita harus milih satu dari sekian pilihan yang tersedia. Waktu ngisi formulir SNMPTN, kita juga milih dua atau berapa dari sekian banyak program studi yang ada dan memilih juga perguruan tinggi mana dari semua yang tersebar di seluruh Indonesia. Kalau sekarang sih, saya lagi galau milih jurusan di fakultas saya, hehehe. Ah, jadi make kata ‘galau’ kan…

Kenapa sih, hidup banyak pilihan? Saya sih mikirnya, dengan adanya pilihan dan memilih, kita jadi belajar bertanggung jawab dan menerima konsekuensi. Weleh weleeeh, seberat itukah? Sebenernya dengan membuat suatu pilihan, kita udah bertanggung jawab sama keadaan yang sedang kita alami. Untuk tidak memilih pun adalah suatu pilihan, sama kayak peserta pemilu yang memilih untuk abstain alias tidak menggunakan hak pilihnya. Tapi lain cerita kalau pilihan itu menyangkut hidup dan mati kita (halaaah). Masa mau tidak memilih kalau itu malah mengancam kehidupan kita? Misalnya ya itu tadi, saya harus milih salah satu dari jurusan yang ada. Jurusan yang saya ambil kelak akan berpengaruh sama karier saya ke depan, kan?

Menerima konsekuensi itu sendiri udah bagian dari bertanggung jawab. Konsekuensi ittu apa, sih? Setelah kita membuat suatu pilihan pasti akan ada hal-hal yang muncul sebagai akibat dari pilihan kita itu. Akibat atau hasil inilah yang kita sebut sebagai konsekuensi. Terkadang, konsekuensi itu berupa pilihan-pilihan lagi yang nggak bisa kita hindari. Pilihan-pilihan baru ini nih yang akan melatih konsistensi kita. Duh, banyak banget ya, pilihan dalam hidup…

Kalo kata lagunya Melly, "Dalam anganku aku berada di satu persimpangan jalan yang sulit kupilih..."

Memilih juga sekaligus berarti meninggalkan yang lain. Contoh sederhananya, saat kita mesen menu di restoran, kita milih jus jeruk, berarti kita meninggalkan  jus stroberi, jus melon, jus alpukat, dan minuman-minuman lainnya. Ketika kita harus meninggalkan sesuatu, biasanya muncul lagi tuh rasa “nggak tega”, hahaha. Wajar sih. Bahkan pasti kita pernah mikir, “Semuanya aja, deh.” Yaah, kalau semuanya bisa kita ambil, buat apa pilihan itu ada? :D

Itninya, di dalam hidup itulah ada (banyak) pilihan. So, bersiaplah dengan segala pilihan yang ada. Kenali konsekuensinya dan jadilah pribadi yang konsisten. Cheers!

 

NB: Tulisan ini juga saya bikin buat diri saya sendiri. Jadi, kalau kamu merasa saya nggak sesuai dengan apa yang saya anjurkan, ingatkan saya, ya, hehehe.

Rasa Rindu


Rasa rindu itu ajaib. Ia mendekatkan yang jauh. Ia bisa menjadi kekuatan yang mendorong kemudian mewujudkan sebuah pertemuan. Ia menjadi alasan bagi insan untuk menebus ketakutan akan sebuah kehilangan. ia muncul dalam hati, hati yang paling dasar dan dalam. Kemudian ia tumbuh seiring waktu. Semakin lama, tak selalu semakin indah, justru semakin menyiksa. Ya, rasa rindu memang indah, tapi ia bisa menelurkan kekhawatiran. Kekhawatiran terhadap yang dirindukan. Rasa rindu yang kelak menjelmakan pertemuan terlebih dahulu memaksa anganmu dipenuhi nama yang selalu kau sebut di setiap pagi kau membuka mata, setiap hari dalam langkah-langkahmu, dan setiap malam sebelum tidurmu. Ia memenuhi ruang hatimu, menelisik ke dalam sudut jiwamu, mengalir sampai ke ujung syarafmu. Ia hadir tanpa daya kau kendalikan. Ia bahkan membuat jiwamu tak tenang. Ia melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang sangat kau inginkan jawabannya. Ia menjadi sebuah kegelisahan.

Rasa rindu itu spesial. Hanya insan-insan yang dihampirinya yang mampu merasakannya. Hanya untuk para perindu.

Lantas, jika pertemuan telah terjamah, apakah ia serta-merta hilang? Mungkin sesaat nuranimu berkata demikian, tapi untuk saat-saat yang lain, ia bisa datang lagi tanpa kau kehendaki. Ia mengaku-ngaku datang atas nama cinta.

Kamis, 15 Maret 2012

17.06 WIB, direvisi pukul 00.10 WIB (16 Maret)

Mimpi dan Perjalanannya


Mimpi. Ada kalanya kau punya mimpi yang begitu indah, yang sangat kau ingin untuk jadi nyata. Mimpi yang membuatmu melambung dan berandai-andai, yang membuatmu tersenyum saat kau membayangkannya. Mimpi yang membuatmu berprinsip bahwa hidup terlalu percuma untuk diam di tempat tanpa ada sesuatu yang ingin dituju. Mimpi yang membuatmu percaya bahwa kau berhak meraihnya.

Dan ada saatnya kau berlari. Berlari mengejar mimpi. Mimpi itu di atas kepalamu, kawan. Dia bisa terbang dan hilang ditiup angin kapan saja. Kau harus menggenggamnya. Kau harus menjaganya agar tetap menjadi tujuan bagi langkah-langkah yang kau jejak. Saat ia terbawa angin, kejarlah dan bawalah ia kembali dalam genggaman.

Aku sedang berlari…

“Tak ‘kan pernah berhenti

Kita ‘kan terus berlari menyatakan semua harapan…”*

Aku terpana dengan mimpi-mimpi yang melayang, yang melambung dan melambungkan. Angin mengajakku, lebih tepatnya memaksaku, untuk berlari. Angin membuat kaki ini lebih berat untuk merangkai langkah-langkah. Tapi aku tetap berlari, berusaha untuk terus berlari.

Ada kalanya manusia lelah berlari, lalu ia berjalan, dan berhenti, meski ternyata tujuan belum diraih. Di jalan, tak tertutup kemungkinan kau tersandung batu dan tejatuh, bahkan terluka. Kau akan menemui lintasan yang menikung. Kau akan mengalami kebingungan di persimpangan. Kau akan rasakan begitu beratnya jalan yang menanjak, betapa menantangnya jalan yang menurun. Kau akan dihempas angin dan badai. Kau akan alami basah kuyup oleh air hujan yang menghujam. Kau akan hadapi terik matahari yang membakar. Tapi kelak kau akan jumpai garis warna-warni bernama pelangi.

Terlalu angkuh jika kau bilang itu tak mengancam. Tapi kau adalah tangguh jika kau bilang itu membuatmu lebih siap untuk bangkit meski kau telah tersungkur dan terpukul.

Aku sedang berjalan…

Rasa lelah. Peluh. Penat. Semua itu membuatku hendak berjalan saja. Langkahku memendek. Ada kalanya manusia lelah berlari, lalu ia berjalan, dan berhenti, meski ternyata tujuan belum diraih. Gerakku melambat. Yang kusadari, tujuanku, mimpiku, tak tergapai.

Aku berhenti…

Meski ternyata tujuan belum diraih, nyatanya aku terdiam. Aku termenung. Sekali lagi kuingat, hidup terlalu percuma untuk berdiam di tempat. Mimpi yang tak tercapai bukan berarti hidupku tak berarti. Hidupku akan tak berarti jika aku tiada pernah bermimpi sesuatu untuk diraih. Pernah aku tersandung, terjatuh, terluka, bingung, takut. Tapi kemudian, yang membuat aku bangun adalah keyakinan. Yakin bahwa aku mampu dan layak meraihnya.

Aku bangkit…

Aku mengangkat lagi kepalaku. Aku membuka lagi mataku. Aku tegakkan lagi kakiku yang tertekuk menyentuh bumi. Aku pastikan kembali langkah-langkahku. Yang tertiup angin akan kukejar dan akan kugenggam, akan kuubah menjadi kenyataan.

Aku siap. Aku akan menantang segala tantangan. Aku akan melawan semua yang melawan kegigihanku. Aku akan mewujudkan yang berhak menjadi nyata. Bukan sebuah, melainkan sejuta.

 

“Meraih sejuta mimpi

Percaya…”**

*Menggapai Harapan (Nusantara Ensemble – 32 Magnifico)

**Simfoni Mimpi (Nusantara Ensemble – 32 Magnifico)

Post Navigation