“Hidup itu pilihan.” Sebenernya saya merasa rancu untuk menginterpretasikan makna kalimat ini. Kalau hidup itu piilhan, mati itu apa? Mati pun bisa jadi pilihan kalau kita (nggak deh, lo aja) milih untuk bunuh diri. *amit-amit* Kalau hidup itu pilihan, kita bisa milih dong untuk hidup atau nggak? Bukannya kita udah punya takdir sejak kita dalam kandungan? Emang di dalam kandungan kita bisa milih, mau hidup atau nggak, mau keluar dari perut si emak atau nggak?
Yang saya alami sih, hidup itu bukan pilihan. Karena saya nggak milih untuk hidup. Takdir saya ya hidup. Hidup adalah bagian dari takdir saya. Tugas saya mempertahankan dan memperjuangkan hidup itu karena hidup itu bagi saya adalah anugerah paling besar dari-Nya, terlebih hidup sebagai seorang manusia. Tapi yang saya alami, di dalam hidup itu sendiri ada banyak sekali pilihan. Pilihan yang sangat mempengaruhi hidup dan kehidupannya. Ketika satu pilihan kita buat, kita akan memilih pilihan-pilihan berikutnya yang berkaitan.
Saat yang paling sulit yaitu ketika kita dihadapkan berbagai pilihan dan pilihan itu ‘memaksa’ kita untuk memutuskan suatu pilihan. Berdasarkan pengalaman sebagai manusia (Alhamdulillah nggak pernah berubah jadi makhluk lain), dalam membuat pilihan itu kita melibatkan akal, logika, bahkan perasaan. Akal kita berguna menganalisis kemungkinan-kemungkinan apa yang akan terjadi setelah pilihan kita buat. Dengan akal, kita nggak akan membuat pilihan yang sembarangan dan nggak akan sembarangan membuat pilihan. Nahloh, apa bedanya? Pikir sendiri yaa,haha. Dengan akal, kita bisa mikir berkali-kali sampe keputusan itu kita rasa udah mateng. Logika berkaitan erat dengan akal. Logika memungkinkan kita berpikir lebih jernih, independen, terstruktur, dan masuk akal. Ya, secara implisit istilahnya tuh lebih realistis. Nah, yang paling susah juga nih, kalo kita melibatkan perasaan dalam membuat keputusan, terutama pilihan. Kalau kita milih A, kita bakal seneng, tapi si anu bakal sedih. Kalau kita milih B, si anu seneng sih, tapi kita yang sedih. Kadang mucul rasa “nggak tega” sama diri sendiri atau sama orang lain. Pinter-pinternya kita nih yang berhadapan sama pilihan-pilihan yang ada. We shall think how to make a decision, yang seminimal mungkin kerugian yang timbul.
Pilihan ada di mana-mana dan menghadap siapa saja. Waktu mau ngisi lembar jawaban ujian pilihan ganda, udah jelas, namanya aja pilihan ganda, kita harus milih satu dari sekian pilihan yang tersedia. Waktu ngisi formulir SNMPTN, kita juga milih dua atau berapa dari sekian banyak program studi yang ada dan memilih juga perguruan tinggi mana dari semua yang tersebar di seluruh Indonesia. Kalau sekarang sih, saya lagi galau milih jurusan di fakultas saya, hehehe. Ah, jadi make kata ‘galau’ kan…
Kenapa sih, hidup banyak pilihan? Saya sih mikirnya, dengan adanya pilihan dan memilih, kita jadi belajar bertanggung jawab dan menerima konsekuensi. Weleh weleeeh, seberat itukah? Sebenernya dengan membuat suatu pilihan, kita udah bertanggung jawab sama keadaan yang sedang kita alami. Untuk tidak memilih pun adalah suatu pilihan, sama kayak peserta pemilu yang memilih untuk abstain alias tidak menggunakan hak pilihnya. Tapi lain cerita kalau pilihan itu menyangkut hidup dan mati kita (halaaah). Masa mau tidak memilih kalau itu malah mengancam kehidupan kita? Misalnya ya itu tadi, saya harus milih salah satu dari jurusan yang ada. Jurusan yang saya ambil kelak akan berpengaruh sama karier saya ke depan, kan?
Menerima konsekuensi itu sendiri udah bagian dari bertanggung jawab. Konsekuensi ittu apa, sih? Setelah kita membuat suatu pilihan pasti akan ada hal-hal yang muncul sebagai akibat dari pilihan kita itu. Akibat atau hasil inilah yang kita sebut sebagai konsekuensi. Terkadang, konsekuensi itu berupa pilihan-pilihan lagi yang nggak bisa kita hindari. Pilihan-pilihan baru ini nih yang akan melatih konsistensi kita. Duh, banyak banget ya, pilihan dalam hidup…

Kalo kata lagunya Melly, "Dalam anganku aku berada di satu persimpangan jalan yang sulit kupilih..."
Memilih juga sekaligus berarti meninggalkan yang lain. Contoh sederhananya, saat kita mesen menu di restoran, kita milih jus jeruk, berarti kita meninggalkan jus stroberi, jus melon, jus alpukat, dan minuman-minuman lainnya. Ketika kita harus meninggalkan sesuatu, biasanya muncul lagi tuh rasa “nggak tega”, hahaha. Wajar sih. Bahkan pasti kita pernah mikir, “Semuanya aja, deh.” Yaah, kalau semuanya bisa kita ambil, buat apa pilihan itu ada?
Itninya, di dalam hidup itulah ada (banyak) pilihan. So, bersiaplah dengan segala pilihan yang ada. Kenali konsekuensinya dan jadilah pribadi yang konsisten. Cheers!
NB: Tulisan ini juga saya bikin buat diri saya sendiri. Jadi, kalau kamu merasa saya nggak sesuai dengan apa yang saya anjurkan, ingatkan saya, ya, hehehe.